Cerita Pendek : Kehidupan Kunang


Oleh : Yana Julia Sari

Semilir angin berhembus dingin hingga menusuk tulang. Tak memperdulikan siapa dia yang akan diterpanya. Terdengar suara gesekan dan yang terus berdesing di antara pohon. Saling beradu menghasilkan suara-suara yang aneh. Membuat hewan-hewan terbang itu keluar dari tempat persembunyian ranting-ranting yan mengulur kokoh di udara.
“Ah..Sebentar lagi mungkin akan turun hujan”ucap salah satu serangga kuning yang paling terang dikala malam itu.
“Apa kita harus kembali ke sarang pak komandan?” Tanya salah seekor serangga
Dengan gayanya yang terlihat bijak, ia menatap keseluruhan langit dibalik dedaunan pohon nan tinggi. Ditatapnya Dulung-gulungan awan hitam yang perlahan menutupi terangnya bulan purnama. Kemudian,dengan suara yang terdengar sedikit mendesis,sang komandan berkata
“Baiklah,kurasa benar sebentar lagi akan turun hujan. Semuanya, Cepat kembali ke sarang. Kita tak bisa meneruskan pekerjaan kita ini”
Mendengar perintah sang pemimpin, sekumpulan serangga yang melayang kesana kemari itu segera kembali kesarangnya dengan terbang seperti membuat sebuah formasi. Bagaikan angsa yang terbang bermigrasi mengudara menghiasi lagit biru ditemani dengan sayap-sayap nan berkilau.
“Nah, Itu dia kunang-kunang!”Seru suara lengkingan manusia.
“AH!indahnya...tapi apa kau tak tau kunang-kunang itu berasal dari mana?”seru suara manusia yang satu laginya.
Manusia cilik itu hanya mengedikan bahunya tidak tahu seraya mengelengkan kepalanya.
“Aku kemarin mendengar dari pembicaraan nenek kemarin dengan kakek. Kau tahu?Kunang-kunang itu berasal dari kuku orang yang sudah mati...” ucap Rico, dengan suara yang sedikit dibuat pelan.
            “Ku...Kuku orang yang sudah mati?”tanya balik Rina.
Rico hanya mengangguk pelan sambil menatap ngeri kunang-kunang yang tak seberapa jauh melayang dari mereka. Entah apa yang dipikirkan, kedua anak kecil itu langsung berkhayal. Rico, ia membayangkan orang yang terlentang dengan tubuh yang ditutupi kain putih dengan tangan yang menggantung kebawah seperti yang ditontonnya di televisi. Memperlihatkan tangannya yang putih pucat. Pikirannya langsung terpusat pada kuku yang tiba-tiba berubah menjadi kuning, perlahan lepas dan melayang. Bagaimana dengan Rina?Tak jauh berbeda. Setelah tersadar dari khayalannya, Rico dan Rina saling menatap ngeri. Tak lama, dua bocah itu langsung berteriak.
Dengan sigap mereka berlari menjauhi segerombolan mahluk yang bercahaya kuning itu. Dari kejauhan, salah satu kunang-kunang kecil hanya menatap derap langkah cepat kedua manusia tadi. Ia berpikir keras, kuku orang yang sudah mati? Apa benar dirinya berasal dari kuku orang yang sudah mati?
“Ayo nak,cepat kembali ke sarang. Sebentar lagi akan hujan” panggil sang induk kunang-kunang.
“Bu, ada yang ingin kutanyakan”
“Apa itu?”
“Apa ibu mendengar apa yang dikatakan manusia tadi?”
“Memangnya apa yang manusia katakan?”
“Kata mereka, kita ini kunang-kunang, berasal dari kuku orang yang sudah mati. Apa itu benar bu?” Jelas si anak
Sang induk terkejut mendengar penjelasan anaknya. Dengan susah payah menelan ludah,  si Induk mencoba untuk menjelaskan.
“Nak,kau tahu kalau kita ini dari serangga kan?kita bukan seperti manusia katakan, kita ini serangga, bukan kuku”
Si anak yang bernama kacir itu terdiam. Pikirannya bercampur aduk antara percaya dan tidak. Separuh pikirannya setuju dengan jawaban si ibu, tetapi perkataan dua bocah manusia tadi terus terngiang ditelinganya.
            ‘Tes..Tes’
“Ah,ayo cepat kembali kesarang”Ajak si induk.

            Kesokan harinya, hujan tak juga kunjung berhenti sejak tadi malam. Setelah terbangun dari tidurnya, si Kacir membalikan tubuh kecilnya menatap kearah luar jendela kamarnya. Menatap satu persatu air yang tak henti-hentinya menampar jendela kamarnya. Begitu juga dengan awan dilangit, gumpalan abu-abu menutup sinar matahari yang seharusnya terik seperti biasanya.
Seraya menatap tetesan air hujan itu, pikirannya kembali teringat dengan apa yang diucapkan manusia tadi malam. Kuku orang mati. Tiga kalimat itu terus terpampang dipikirannya. Pikirannya terus berkecamuk dengan kata-kata itu, ia pun memutuskan untuk mencari tahu kebenaran asal-usal kunang. Sehabis hujan reda, ia pun bergegas pergi ke rumah sahabatnya ,Cikur.
“Cikuur...” panggil Kacir dari luar pintu sebuah sarang kecil. Tak lama kemudian,terdengar suara sapaan dari dalam dan derit pintu yang terbuka.
“Ah! Kacir. Ada apa cir?” seru Cikur dengan senyum yang lebar
“Ada yang ingin aku cari tahu tentang sesuatu. Apa kau mau ikut?”
“Tentu saja!”
Setelah mendapat izin dari ibunya, Cikur pun pergi bersama Kacir menyusuri kampung mereka seraya mengobrol.
“Kur, apa kau tahu bahwa kita, kunang-kunang sering dibilang berasal dari ‘kuku orang yang sudah meninggal’ oleh manusia?”
“Kuku orang yang sudah meninggal?Ya, aku tahu itu Cir”
“Lalu?kau tahu apa sebabnya?”
Dengan wajah yang polos dan tanpa berdosa, Cikur hanya menggelengkan kepala ringan.
“Hmm..mari kita cari tahu,Kur”
“Cari tahu kemana, Cir?”
“Sekarang, ayo kita kesawah. Banyak manusia disana. Biasanya mereka bekerja sambil membawa anaknya. Dan yang pernah kudengar, anak-anak manusia itu sering bertanya pada ibunya tentang keberadaan kunang-kunang”
Sesampainya mereka disawah, dengan cepat mereka menemukan manusia-manusia itu dibawah tempat teduh ditengah-tengah sawah. Seperti dugaan Kacir, salah satu diantara mereka ada yang membawa anaknya.
“Kau lihat itu, Kur?”seru Kacir sambil menunjuk manusia-manusia kecil yang sedang duduk disamping orang tuanya.
“Ayo kita mendekat”ajak Cikur
Setelah keduanya mendekat, mereka mencoba mendengarkan pembicaraan manusia yang sedang duduk santai itu.
“Ibu!nanti malam aku mau cari kunang-kunang ya! Menangkapnya dan memeliharanya...” ucap senang si anak kecil sambil memeluk lengan ibunya.
“Kau boleh mencarinya tapi tak boleh menangkapnya ya”
“Kenapa bu?”tanya anak kecil itu dengan nada sedikit rengek.
“Kunang-kunang itu adalah jelmaan kuku orang yang sudah meninggal nak. Kamu mau saat kamu tidur ditemani dengan sipemilik kuku?”
Anak kecil itu pun hanya bergidik ngeri mendengar perkataan ibunya.
“Nanti malam akan ibu temani untuk melihatnya ya” Sementara itu, Kacir dan Cikur hanya bisa mengernyitkan dahi.
“Kau dengar itu, Kur? Manusia selalu mengatakan kalau kita ini berasal dari kuku orang yang sudah meninggal. Hmm...”
“Bagaimana kalau nanti malam kita cari tahu lagi? Biasanya ada orang yang mendekat ke perkampungan kita. Kurasa dia meneliti tentang kebenaran kunang-kunang yang berasal dari kuku orang yang sudah meninggal, Cir”
“Darimana kau tahu itu Kur?”
“Dua hari yang lalu, saat aku sedang tidur-tiduran di ranting kecil belakang rumah, aku melihat manusia dengan gagang kaca menyangkut dihidungnya denga teliti memperhatikan ayah dan ibu yang sedang bekerja mencari air di rawa-rawa. Setiap apa yang ia lihat, selalu ia tulis di tumpukan kertas kecil yang ada ditangannya. Mungkin nanti malam dia akan datang lagi. Karena, seharian kemarin dan tadi malam kan terus hujan” panjang lebar Cikur pada Kacir.
“Baiklah, Kur. Nanti malam aku akan datang kerumahmu. Kalau begitu, Ayo kita pulang” Setelah Kacir dan Cikur berdiskusi, Mereka memutuskan untuk kembali ke kerumah mereka masing-masing.
Malam yang ditunggu-tunggu pun tiba. Rasa keingintahuan Kacir semakin besar. Ia terus mondar-mandir mengelilingi kamarnya sambil terus menatap jam dinding yang terus berdetak. Lama ia dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba ia berhenti mendengar panggilan ibunya karena makan malam yang sudah siap. Dengan tidak sabaran Kacir memakan lahap makan malam yang sudah terhidang di meja makan rumahnya. Selesai makan malam, Kacir segera bergegas kerumah Cikur yang tak terlalu jauh dari rumahnya.
“Permisi,Ciikuurr....”
Sipemilik pintu rumah pun terbuka. Menampakan induk kunang-kunang yang wajahnya hampir serupa dengan sahabatnya.
“Ooh...Kacir. ada apa kedatanganmu kesini, Nak?”sapa ramah si induk tua itu
“Apa Cikur ada, bu?aku ingin bermain dengannya” jawah Kacir riang.
“Oh, ada. Tunggu sebentar ya nak. Ibu panggilkan Cikur dulu, silahkan masuk”
“Terima kasih bu”
Tak lama kemudian, datanglah Cikur dari kamarnya. Setelah keluar dari sarang , mereka terbang menuju ranting-ranting pohon dibelakang rumah cikur.
“Dimana kau melihat manusia itu dimana Kur?” tanya Kacir seraya membututi Cikur yang terbang memimpin jalan diranting kecil bercabang itu.
“Itu!Itu dia Cir” tunjuk Cikur kearah rawa-rawa dekat perkampungan mereka.
            “Ah yang itu. Yang memakai kaca dimatanya?Dan yang memegang tumpukan kertas kecil seperti yang kau katakan?” Cikur mengangguk senang.
“Lihat, ia terus memperhatikan ayah kita yang sedang mengumpulkan air dibawah sana”
Hening. Sama sekali tak ada jawaban dari kacir. Merasa tak dijawab, Cikur pun menoleh kearah Kacir yang berada dibelakangnya.
“Hei, kenapa kau diam saja Cir?”
Tak ada jawaban. Ia melihat kacir hanya terpaku pada para ayah mereka dibawah sana. Heran
dengan sikap Kacir, cikur pun Menggoyang-goyangkan badan Kacir.
“Hei! Kacir!” akhirnya Kacir tersadar dari lamunannya.
“Kau kenapa melamun?apa yang membuatmu tercengang?” tanya Cikur penuh selidik
“Apa kau tak menyadari itu Kur?betapa indahnya kita kunang-kunang dimalam hari. Kita seperti diibaratkan bintang dimalam hari yang berkelip-kelip berhamburan di angkasa hitam pekat sebagai penghias” jelas Kacir
“Kau tak lihat itu,kur?manusia-manusia itu terlihat sangat takjub melihat lampu-lampu alami kita” sambung Kacir menunjuk manusia-manusia yang mereka temui tadi siang di sawah.
“Ya,kau benar. Kita memang indah dimata manusia-manusia itu,Cir”
“Tapi jangan kau lupakan manusia yang suka mencatat itu. Mari kita mendengar analisanya tentang asal-usul kita kunang-kunang”
Kemudian mereka terbang mendekati manusia yang berada dibawah perkampungan mereka. Keduanya mendengarkan manusia pencatat itu-menurut mereka,yang sedang memanggil manusia yang satunya.
“Roni, aku dapat menyimpulkan ‘kuku terbang ini’. Cepat kemari”
“Apa?Kau sudah menyimpulkannya?”
“Ya. Menurut dari penelitianku sejak dari enam hari yang lalu. Kunang-kunang ini bukanlah berasal dari ‘kuku orang yang sudah meninggal’seperti warga kampung ini katakan. Mereka hanyalah serangga biasa tetapi mempunyai kemampuan yang dapat membuat ‘lampu’ sendiri dari tubuh mereka. Sepertinya mereka mempunyai zat kimia yang tak dipunyai dari serangga yang lainnya. Kurasa, kenapa kunang-kunang ini disebut berasal dari ‘kuku orang yang sudah meninggal’ hanya untuk menakut-nakuti anak-anak perkampungan desa ini agar anak-anaknya tidak bermain-main pada malam hari”
“Dan juga agar memberi pelajaran pada anak-anak agar tidak menganggu ekosistem binatang dialam ini. Mengingat bahwa zaman sekarang banyak sekali,manusia yang sering mengeksploitas alam yang secara berlebihan bukan?”Lanjut  Roni.
Rino, sikembar yang meneliti itu mengangguk sambil memandangi cahaya-cahaya dari kunang-kunang yang terbang melayang perlahan kesana kemari.
“kau dengar itu, Kacir. Kita ini memang serangga yang mempunyai sesuatu yang berbeda diantara serangga yang lainnya”
“Ya..Ternyata mereka mengatakan kita sebagai ‘kuku orang yang sudah meninggal’ hanya untuk memberi pelajaran pada anak manusia agar mereka tidak membuat tempat berkembangnya kita  dihancurkan oleh manusia yang lainnya” Ucap Kacir bijaksana.
Setelah semua teka-teki terjawab,Kacir dan Cikur kembali ke sarangnya masing-masing dengan perasaan yang senang.

                                                          ~TAMAT~
Sekian cerita pendek ini. Maaf apabila ada kesalahan nama dan kemiripin alur cerita. Kalimat-kalimat diatas hanyalah kata-kata yang terinspirasi dari mitos tentang kunang-kunang.


Postingan Populer