Cerita Pendek 2 : Malangnya Niki
Oleh : Yanajulias
Berambut panjang
melebihi bahu, Kulit kuning langsat dan memiliki mata yang ‘Belo’. Ciri-ciri
fisik itu dimiliki Niki. Seorang siswi kelas satu SMA. Dia memiliki kakak
perempuan yang satu sekolah dengannya. Hanya saja berbeda dua tahun. Rambutnya
berwarna coklat madu, mata yang sipit dengan kulit yang seputih susu. Namanya Tika.
Banyak orang beranggapan bahwa Tika lebih cantik daripada Niki. Niki sebenarnya
tak masalah dengan komentar tersebut. Hanya saja, terkadang pasti ia juga
merasa kesal.
Kadang-kadang,
kalau ada tamu yang datang kerumah, mereka pasti selalu memuji Tika yang
dengan anggunnya membawa nampan berisi cangkir teh hangat.
“Oh,
Tika. Kamu cantik sekali. Dan manis.”
Niki hanya terdiam
ditangga memperhaTikan tingkah laku saudara perempuannya. ‘Oh, sungguh menjijikkan
sekali gayanya. Telunjuk kanannya mulai menghinggap lagi di rambutnya. Ditambah
mata sipitnya yang mengedip tak jelas.’ Gumam Niki saat itu.
Tak hanya dirumah,
begitu pula disekolah. Apabila jam istirahat tiba, kadang –kadang Tika dan Niki
berjalan bersama ke kantin sekolah. Baru saja memasuki kantin, perhatian seisi
kantin pun langsung tertuju pada Tika. Dengan cepat, terjadi juga perubahan pada
air muka Tika. Raut wajahnya yang centil muncul.
‘Argh, telunjuknya
beraksi lagi’ gusar Niki sambil memutar bola matanya. Kantin yang sedikit
hening pun diramaikan dengan beberapa teman seangkatannya yang tiba-tiba berteriak
tiuh memuji kecanTikan Tika. Tak hanya laki-laki. Bahkan perempuan pun juga
ikut berteriak memanggil Tika.
“Tika!Tika!duduk
disini” teriak gadis yang satu.
Niki yang berdiri disebelah Tika pun langsung
disingkirkan oleh gadis yang tadi berteriak memanggil Tika. Kesal diperlakukan
seperti itu, Niki pun berteriak,
“Helloo-o-o!
Ada orang disini. Aku tidak terlihat jelek kaaan?!”
Berteriak pun percuma. Tak ada satupun yang
mendengar Niki. Bahkan tak ada yang menyadari adanya Niki disana. Niki pun dibuatnya
kesal sampai ke ubun-ubun. Ia pun bergumam,
“Yayaya..
tercantik,pusat perhatian. Terserah”
Malam itu, Niki
sedang berbaring di tempat tidur dikamarnya. Dengan pintu kamar yang sedikit terbuka,
Sekilas ia melihat kakaknya berjalan ke kamarnya yang ada disebelah kamarnya.
Perlahan, Niki pun tertidur. Ditengah lelapnya,tiba-tiba ia terbangun dengan
teriakan Tika yang seperti itik terjepit menurut Niki. Tiba-tiba, pintu kamar Niki
yang tadinya terbuka sedikit langsung terbuka lebar dengan suara yang keras.
“Hei,Hei!Apa-apaan
ini? Sudah malam girls. Jangan berteriak”
“Ada
kecoa tau!”
“Tutup
pintunya”
“Aku
tidur sementara disini ya ki. Hanya malam ini saja”
“Terserah”
Jawab Niki malas.
‘Argh, mengganggu tidur saja’ gumam Niki yang
belum mengumpulkan nyawanya malam itu.
Dua hari kemudian,
pagi harinya, Tika tak ada ditempat tidurnya. Seorang ibu paruh baya yang
berperawakan mirip Niki mondar-mandir bertanya kepada semua orang yang ada
diatas rumah saat itu. Tukang kebun, pak supir, pembantu, tapi tak satupun yang
tahu kemana Tika pergi. Anehnya ibu Niki, tak bertanya pada Niki. Niki
mempunyai pemikiran yang sedikit masuk akal.
‘Mungkin Tika pergi
diam-diam dari rumah dan pergi dengan laki-laki aneh yang ditaksirnya. Haha.
Sangat Mudah. By the way,sepertinya aku harus bilang ke ibu -tapi kalau ibu
bertanya padaku-.’ Tetapi pada akhirnya, Ibu Niki tak ada sama sekali bertanya
pada Niki.
Sementara itu, sambil
bekerja pun, ibu Niki masih saja terlihat cemas. Banyak piring yang masih
tercium bau sabun. Ibu paruh baya ini Selalu saja cerewet ke orang-orang yang
tidak tahu dimana Tika berada. Pada akhirnya, orang yang ditanya pun, mau tak
mau terpaksa juga ikut mencari Tika. Bahkan berpesan pada tetangga untuk
berjaga-jaga apabila melihat Tika. Ayah Niki
dengan sabarnya mengatakan,
“Jangan Khawatir bu.
Tinapasti kembali pulang”
Bukannya tenang, Ibu Niki semakin
manjadi-jadi.
“Tina pasti diculik!kita harus lapor polisi!”
“Aku
merasa itu tidak terlalu menjamin bu. Belum dua puluh empat jam tina menghilang”
dengan suara yang sangat sabar.
Sorenya, Ibu Niki
beristirahat sambil mengurut kepalanya perlahan disofa. Bi Tarni, pembantu lama yang sudah lama
bekerja di keluarga Niki juga membantu memijit bahu ibu Niki dan sambil
mengoleskan minyak kayu putih. Melihat Ibu yang kelelahan, Niki pun datang
menghampiri dan duduk disamping ibunya. Tiba-tiba ibunya berujar,
“Oh,
Niki. Ibu harap yang Hilang itu kamu. Bukannya Tika. Ibu tidak akan khawatir
kalau kamu yang hilang”
Tentunya, Niki terkejut dengan pernyataan
ibunya saat itu. Tak hanya Niki, Bi Tarni pun langsung berhenti memijit bahu
ibu Niki dengan ekspresi wajah yang tak percaya.
“Oh,Bu!Teganya
berkata seperti itu”
‘aku menangis. Aku memang buruk. Sangat buruk.
Bahkan ibu pun berkata seperti itu’
Niki keluar dari
rumahnya dikala malam itu. Derasan air mata membasahi pipi Niki. Dengan dihampiri semilir angin dingin yang menusuk
sampai ketulang-belulang. Niki pergi dari rumahnya. Tak peduli kemana kakinya
membawanya berjalan, yang penting yang diinginkannya hanyalah pergi menjauhi
rumahnya. Karena air mata yang terus
mengalir, pandangan Niki pun menjadi kabur. Sampai-sampai Niki tersandung batu
besar dan terjatuh tepat di depan halaman depan rumah Pak Wardiman. Niki terpaku pada pohon disebelah rumah Pak Wardiman
yang tinggi itu. Niki beranggapan,
mungkin kalau dirinya bersembunyi di
pohon itu sampai dua hari kedepan pun, ibunya tak akan bisa menemukan dirinya.
Dan benar saja, sudah
malam yang kedua, Niki masih saja berdiam diri di pohon tinggi di samping rumah
Pak Wardiman ini. Hingga, pada akhirnya Niki melihat ibunya berjalan
memanggil-manggil namanya. Kemudian ibu Niki kembali lagi berjalan pada sore
harinya. Memanggil nama Niki lagi. Ibu Niki berhenti pada setiap orang dijalan
dan bertanya apakah pernah melihat Niki sebelumnya.
‘Haha! Ibu sekarang mencariku. Dan bukan
mencari Tika lagi’
Niki sekarang
berharap bahwa perutnya berhenti membuat suara gemuruh karena kelaparan. Malam
pun kembali datang, Niki berfikir mungkin inilah saatnya ia pulang kerumah. Saat
ia berjalan menjauhi pohon, tiba-tiba itu terjatuh terperosok kedalam tanah. Tini
pun berusaha untuk keluar dari lubang yang besar itu. Tiba-tiba, sesuatu yang
aneh terjadi pada dirinya. Kedua kakinya terasa berat seperti ditimpa satu ton
bata. Tak hanya itu, Niki juga merasa pusing yang amat sangat.
“Ibu!Tolong
aku!Siapapun!Tolong bantu aku keluar dari sini!”
Niki terus-terusan
berteriak minta tolong. Namun, semakin lama suaranya pun semakin pelan dan
pelan. Akhirnya Pak Wardiman, si pemilik rumah disamping pohon tempat Niki
berdiri pun menyadari adanya suara yang meminta tolong. Pak wardiman pun datang
menghampiri lubang besar ditempat Niki terjebak didekat pohon tinggi itu.
“Yaampun
Niki, kau disini ternyata. Untung saja saya mendengar teriakan minta tolongmu.
Bapak akan mengeluarkanmu dari sana.”
Dan dibelakang pak
wardiman, terdengar suara wanita dengan nada yang panik. Ia terkejut melihat Niki
yang sedang berada didalam lubang itu.
“Yaampun
Niki. Saya akan menelepon bu Ruslan. Oh tuhan, dia pasti senang mendapatkan Niki
kembali”.
~ TAMAT ~